Jan 182011
 

Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan jaman berdampak kepada semakin dashyatnya fitnah dalam kehidupan bermasyarakat. Kejahatan dan keburukan, baik dalam wujud yang nyata maupun terselubung dengan berbagai ragamnya, sepertinya menjadi
fenomena yang dengan mudah dapat kita temui tiap saat di mana-mana. Kenyataan ini membuat kita sebagai orang tua merasa sangat prihatin sekaligus ngeri. Rasanya saat ini kita seperti tengah dikepung oleh berbagai pengaruh buruk yang siap memangsa seluruh anggota keluarga kita. Anak-anak kita, manusia-manusia kecil yang sedang dalam proses pembentukan
kepribadian, tentu merupakan pihak yang masih sangat rentan dan mudah terkontaminasi berbagai pengaruh buruk. Karena itu sudah sepatutnya kita lindungi dengan berbagai cara. Perlindungan yang paling utama tentu dengan melengkapi anak dengan kemampuan untuk memilah dan menyaring pengaruh yang mereka terima dari luar.

Islam sebagai agama yang mulia telah mengajarkan bahwa sebelum memiliki kemampuan untuk mendidik anak agar menjadi shalih, orang tuanyalah yang harus terlebih dulu sanggup menshalihkan dirinya, agar dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya yang akan lahir kemudian. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, begitu bunyi pepatah bahasa Arab. Pepatah ini bermakna dari ibulah seorang anak memperoleh pendidikannya yang pertama dan ibulah sumber pendidikan yang utama. Islam menjelaskan bahwa faktor-faktor agar seorang ibu berhasil dalam mengemban tugas mulia ini:
1. Berusaha memperbaiki diri sendiri
Bagaimana seorang ibu bisa mendidik anaknya menjadi orang yang baik, kalau dia sendiri tidak memiliki kebaikan tersebut dalam dirinya? Sebuah ungkapan Arab yang terkenal mengatakan, “Sesuatu yang tidak punya, tidak bisa memberikan apa-apa”. Kebaikan dan ketakwaan seorang pendidik sangat menentukan keberhasilan dalam mengarahkan anak didiknya pada kebaikan. Imam Muhammad bin Sirrin berkata, “Sesungguhnya ilmu adalah agamamu, maka telitilah dari siapa kamu mengambil (ilmu) agamamu”. (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/12).

2. Menjadi teladan yang baik bagi anak-anak
Menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anak didik termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat, lebih besar daripada pengaruh ucapan. Ini disebabkan karena jiwa manusia lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat di hadapannya dan menjadikannya lebih bersemangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah-kisah para nabi ‘alaihimus salam yang terdahulu, serta kuatnya kesabaran dan keteguhan mereka dalam mendakwahkan agama Allah, untuk meneguhkan hati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan mengambil teladan yang baik dari mereka. “Dan semua kisah para rasul, yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalamsurat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS Hud : 120). Syekh Bakr Abu Zaid berkata, “Jika seorang ibu tidak memakai hijab, tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan yang menampakkan kecantikannya di luar rumah, senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan sebagainya, maka ini secara tidak langsung merupakan pendidikan yang nyata bagi anaknya, untuk mengarahkannya pada penyimpangan ahlak dan memalingkannya dari pendidikan yang baik, seperti kesadaran untuk memakai hijab, menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta memiliki rasa malu.

3. Memilih metode pendidikan yang baik bagi anak
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin berkata, “Yang menentukan keberhasilan pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta berusaha menempuh metode pembinaan yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah mudahkan urusannya dalam mendidik anak. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam semua urusannya”. (QS At-Thalaaq : 4). Hendaknya orang tua membiasakan anak-anak sejak dini untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sebelum mereka mencapai usia dewasa, agar mereka terbiasa dalam ketaatan.
Syekh Bakr Abu Zaid berkata, “Termasuk pembinaan awal yang diharamkan adalah memakaikan pada anak-anak kecil pakaian yang menampakkan aurat, karena ini semua menjadikan mereka terbiasa dengan pakaian dan perhiasan tersebut sampai dewasa. Padahal pakaian tersebut menyerupai pakaian orang-orang kafir, menampakkan aurat dan merusak kehormatan”. (Kitab Hirasatul Fadhilah, halaman 10)

4. Kesungguhan dan keseriusan dalam mendidik anak
Syekh Bakr Abu Zaid berkata, “Anak-anak adalah amanah Allah. Islam mewajibkan orang tua menunaikan amanah ini dengan mendidik mereka berdasarkan agama Islam, serta mengajarkan kepada mereka hal-hal yang menjadi kewajiban mereka, dalam urusan agama maupun dunia. Kewajiban pertama yang harus diajarkan kepada mereka adalah menanamkan ideology tentang iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para rasul ‘alaihimus salam, hari akhirat dan mengimani takdir Allah yang baik dan buruk, juga memperkokoh pemahaman tauhid yang murni dalam jiwa mereka agar menyatu ke dalam relung hati mereka.
Kemudian mengajarkan rukun Islam pada diri mereka, menyuruh mereka mendirikan shalat, menjaga kejernihan sifat-sifat bawaan mereka (yang baik), menumbuhkan ahlak yang mulia dan tingkah laku yang baik, serta menjaga mereka dari teman pergaulan dan pengaruh luar yang buruk. Inilah rambu pendidikan Islam. Metode pendidikan ini termasuk petunjuk para Nabi ‘alaihimus salam dan bimbingan orang-orang yang bertakwa (para ulama salaf)”. (Kitab Hirasatul Fadhilah, halaman 122)
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin berkata, “Pada masa awal pertumbuhan anak-anak, yang selalu bersama mereka adalah seorang ibu. Maka jika sang ibu memiliki ahlak dan perhatian yang baik, mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik dalam asuhannya dan ini akan memberikan dampak positif bagi perbaikan masyarakat”.

Pengirim: Ibu Ririn (Bunda Rafi, Najwa,Yasmin)
Sumber: http://manisnyaiman.com
Penulis: Abdullah bin Taslim al-Buthoni M.A

hd porn
 Posted by at 3:08 am

Sorry, the comment form is closed at this time.