Mar 232011
 

Hari ini, hari yang cerah. Wardah sangat bahagia karena ia akan janji bermain sepeda bersama Jannah di taman dekat danau. Mereka janji bertemu jam 09.00. Hari ini tanggal 15 Maret, tepatnya adalah Hari Sahabat. Jam dinding Wardah menunjukkan jam 08.30. Wardah cepat-cepat mengambil sepeda di garasi, lalu pergi ke taman dekat danau. Wardah dan Jannah itu bersahabat dari kecil. Mereka tinggal di komplek yang sama, di sekolah yang sama dan hobbi mereka sama yaitu,.. bersepeda.  Sesampai di taman dekat danau, ia tidak  melihat Jannah ada di taman. Sambil menunggu, ia mencari-cari bunga yang sedang mekar untuk ia petik. Ia hanya melihat bunga Melati saja yang mekar. Akhirnya, ia memetik satu batang bunga Melati. 30 menit kemudian, Wardah sangat bosan.

”Hah? Sudah jam 09.00 Jannah belum datang?” gumam Wardah heran sambil melihat jam tangannya yang bergambar Hello Kitty.

Karena Wardah capek, Wardah duduk di kursi kayu. Ia tidak sabar lagi menunggu Jannah yang dari tadi belum datang. Wardah pun jadi heran. ”Hmm… Apakah Jannah tidak mau lagi bersahabat denganku? Atau Jannah sakit? Atau  Jannah malas? Atau Jannah pergi? Huh… bingung aku!” pikir Wardah aneh. Wardah memutuskan untuk pergi ke rumah Jannah.

Sesampai di rumah Jannah, Wardah melihat Jannah sedang sibuk memasukkan barang-barang ke bagasi. Sedangkan Ummi dan Abinya kelihatan mengangkut koper besar. Kok keluarganya Jannah sibuk sekali? Kenapa ya?

”Jannah!” sapa Wardah dengan suara lantang.  ”Main sepeda yuk, di Taman!”

”Maaf ya, Wardah!” jawab Jannah. ”Aku sedang merapikan rumah untuk siap-siap pindah!”

”Kemanakah kau pindah? Pindah rumah?” tanya Wardah terkejut.

”Aku akan pindah ke Pontianak, Abiku pindah kerja!” jawab Jannah kelihatan sedih.

”Kenapa baru bilang?” protes Wardah.

”Maaf ya, aku tidak ingin kamu sedih. Oya, ini untukmu!” kata Jannah sambil menyerahkan bunga Mawar yang sudah dibungkusi plastik bertulis ’Best Friend Forever’.

Wardah menerima bunga pemberian Jannah dan pergi bersepeda sambil menangis. Sesampai di rumah, Wardah mengurung diri di kamarnya. Wardah masih menangis karena ditinggal sahabatnya. Ia merasa heran.

”Kenapa sih, Jannah tidak  memberitahu jauh-jauh hari! Apakah ia tidak sedih berpisah denganku? Kalau aku sangat sedih, siapa yang akan menemani aku bermain sepeda setiap Sabtu pagi? Siapa yang akan menemaniku berangkat dan pulang sekolah? Siapa yang akan lebih banyak mengumpulkan bunga Melati gugur di Taman? Sekarang tidak ada lagi….” sambil menangis, Wardah menatap bunga Mawar pemberian Jannah.

”Aku harus ke Taman, memetik banyak  melati untuk Jannah!” pikir Wardah. Akhirnya, Wardah beranjak dari kamar sambil membawa keranjang pink kecil  menuju taman. Wardah memenuhi keranjang pink kecilnya dengan bunga Melati yang mekar dan harum. Ia mengayuh sepeda menuju rumah Jannah. Ia ingin memberikan bunga Melati itu sebagai kenang-kenangan.

“Assalamu’alaikum, Jannah!”  Wardah memanggil Jannah dengan lantang. Tetapi, rumah sepi dan pintu pagar terkunci.

”Pasti Jannah dan keluarga sudah berangkat ke Bandara!” pikir Wardah. Ia tampak sedih kembali. Dan ia pergi bersepeda sambil menangis lagi. Sesampai di rumah, Wardah mengurung diri di kamarnya lagi. Sampai ia ketiduran….

Enam hari sudah Jannah pindah ke Pontianak. Wardah sudah terbiasa berangkat dan pulang sekolah sendiri. Kesedihannya pun berkurang. Besok adalah hari Sabtu, Wardah tidak akan main sepeda lagi di taman. Tiba-tiba….

Tin..!! bel  motor Pak Pos berbunyi. Wardah langsung membukakan pintu pagar. Ia menerima surat beramplop pink dan perangko bergambar sepeda dan ternyata…. dari Jannah! Wardah sangat gembira. Ia tidak sabar segera membuka isi suratnya. Ia langsung ke kamar untuk membaca surat dan segera ingin balas suratnya. Wardah sudah tidak sedih lagi. Biarpun berjauhan tapi, tetap bisa bersahabat..

 

Karya : Khalisha Shafa Fawzya

 

free black porn

Sorry, the comment form is closed at this time.